Kerja Dari Rumah; Memang Beneran Enak?




Sejak saya memutuskan untuk bekerja dari rumah kurang lebih lima tahun lalu, ragam komentar saya dengar.

Komentar pertama: “Wah sayang ya, udah enak-enak kerja, kok resign.”
Komentar kedua: “Enak ya, gak perlu keluar rumah, bisa dapat duit sendiri.”
Komentar ketiga: “Berapa dapatnya kalau bekerja dari rumah?
 

Tidak ada yang salah dengan semua komentar tersebut. Anggap saja, mereka semua peduli dengan kondisi keluarga dan finansial saya. Meski beberapa mungkin hanya berbasa-basi. Tapi, tak perlu dipikir terlalu serius juga kan, karena nasib kita, sebenarnya tergantung dari upaya kita.

Ok, mari kita melihat komentar pertama. Mengundurkan diri dari pekerjaan dianggap sebagai sesuatu yang patut disayangkan. Tak heran, karena memang tidak mudah mendapatkan pekerjaan. Saya sendiri tahu karena saya sudah mengalami yang namanya mengirim lamaran pekerjaan beramplop-amplop tanpa hasil. Saat berhasil, dan diterima di perusahaan besar dan ternama, tentu bangganya luar biasa. Setahun, dua tahun, saya masih merasa asoy-asoy saja. Memasuki tahun ketiga, tak ada peningkatan signifikan dalam hal karir karena kita hanya tunggu perintah bos, dan tidak ada kenaikan gaji. Konflik manajemen sengaja diciptakan supaya karyawan tak krasan dan mengundurkan diri dengan sendirinya. Fenomena umum ini sudah saya alami berkali-kali, dan saya terkadang heran mengapa orang menganggap bahwa keluar dari pekerjaan yang membuat kita ‘tak diorangkan’ adalah hal yang patut disayangkan.

Komentar kedua, ini cukup masuk akal. Memang kita tidak keluar rumah, tetapi uang juga tidak datang dengan sendirinya. Bekerja dari rumah justru perlu kreatifitas tingkat tinggi, bro. Contohn simpel saja. Saya bekerja sebagai penulis artikel online. Dulu, jasa saya kadang laku kadang tidak. Ditolak pun berkali-kali, dan ditipu sekali. Saya juga punya usaha sayur organik yang saya rintis dengan susah payah, dimana saya ‘buka lapak’ di sekolah, mendatangi tetangga yang sekiranya mau beli ‘dedaunan mahal meski sehat’, dengan mengendarai roda dua, di tengah panas ataupun hujan. Bahkan saat angin badai, saya sempat bertahan di halaman sekolah karena tak ada satupun sayur yang laku sampai sekolah sepi. Kalau saya menyerah? Pasti di rumah tidak ada yang bisa makan.

Komentar ketiga, dapat uang berapa adalah pertanyaan yang sama sekali tidak etis buat saya. Entah mengapa masih ada saja orang yang bertanya ‘Berapa gajimu’, atau ‘berapa pendapatanmu’. Coba saja tanyakan hal yang sama kepada bule lewat atau seorang teman ekspatriat. Dengan muka masam mereka akan menjawab: “It’s none of your business”

Memang, mungkin mereka yang berkomentar ketiga ini bermaksud baik, dengan ingin meniru para pekerja rumahan seperti saya. Tapi kalau penghasilan, ya tergantung bagaimana saya bekerja dan mengolah otak supaya tiap hari bisa makan dan menyekolahkan anak. Dipikir-pikir, saya sekarang jauh lebih kreatif karena semua hal harus bisa jadi uang. Sedangkan saat saya masih jadi karyawan—terlepas dari gaji yang lumayan dan tunjangan kesehatan—saya masih sering dipusingkan oleh pengeluaran mendadak setelah tanggal 10.

Jadi, enak tidak enak, ya dari kita sendiri. Menjadi karyawan pun bisa enak kok, asal kita mau bersyukur dan punya keahlian untuk mencari penghasilan tambahan. Memanfaatkan internet untuk hal positif sebenarnya bisa mengubah nasib banyak orang. Coba saja.

Post a Comment

Previous Post Next Post

Popular Items