Siapa Bilang Kerja Dari Rumah itu Mudah?

Kerja dari rumah memang mudah. Mendapatkan duitnya yang susah. Memang, banyak kisah sukses dari para pekerja online yang bisa meraup jutaan rupiah per minggu. Tapi jangan salah, hal itu tidak terjadi setiap minggu, dalam kurun waktu enam bulan. Beberapa iklan online menunjukkan mudahnya seseorang untuk mendapatkan ribuan dollar per hari. Apalagi dalam iklan tersebut, diperlihatkan selembar cek dengan jumlah angka yang menggiurkan. Nah, saat di 'klik', masuklah si pengunjung ini ke dalam sebuah situs yang mengarahkannya untuk mengunjungi beberapa pranala hingga akhirnya ia diharuskan untuk membayar.

Saya? Ibu rumah tangga biasa yang mencoba untuk bertahan hidup dengan bekerja dari rumah. Menulis adalah hal yang sudah saya minati sejak kuliah. Telat, ya? Tapi tak apalah, karena toh saya diterima bekerja sebagai jurnalis di sebuah media nasional. Lalu saya mencoba untuk banting setir menjadi seorang 'public relation' sebuah perusahaan properti dan golf di Jawa Timur dimana perusahaan memandang saya sebagai seseorang yang dapat mengajak para awak media untuk meliput semua kegiatan dari perusahaan tersebut.

Kerja dari rumah saya jalani sejak saya melihat bahwa anak sulung saya selalu mendapat nilai buruk. Ini tidak menyenangkan, meskipun hal ini karena ia bersekolah di sekolah yang para siswanya memiliki IQ jauh di atas rata-rata. Sedangkan anak yang kedua, saat itu masih empat tahun, tak terlihat perkembangannya dalam hal kreatifitas karena selalu bersama dengan ART. ART yang sangat baik dan peduli, sebenarnya, tapi bukankah itu tidak cukup?

Awal saya memutuskan kerja dari rumah pun tak gampang, karena saya sempat terjebak dengan situs-situs yang menyuruh saya harus membayar sebelum bekerja. Lalu, sedikit demi sedikit, saya mulai mendapat tawaran menulis setelah bergabung di freelancer.com. Saat itu, buat saya, sangat lumayan mendapatkan $0,65 dari satu artikel 300 kata. Seingat saya, itu terjadi tahun 2011. Tentu saya senang, meskipun kalau sekarang saya bayangkan lagi, jumlah tersebut sangat 'mengerikan'.

Kepercayaan klien dulu, itu yang penting kalau berniat kerja dari rumah. Jika kita mendapat rating dan review bagus di situs yang bersangkutan, popularitas kita merangkak. Dan ini tak semudah mengedipkan mata lho. Kerja keras dan tertipu juga sering! Susah payah mengerjakan puluhan artikel, tak terbayar. Hmm, ini semata-mata karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian akan 'terms and conditions' yang ada di situs yang bersangkutan. Jangan pernah dianggap remeh, karena kebanyakan orang kita tidak membaca syarat dan ketentuan saat hendak bergabung di sebuah komunitas pekerja online.

Tidak menyerah, itu yang saya lakukan. Sebagai penulis online, dulu saya hanya punya komputer dan tidak punya sambungan internet. Menyedihkan, ya memang. Dengan kondisi keuangan yang tak jelas, saya tak mampu bayar internet bulanan. Saya ke warnet, selama lima bulan saat hamil anak ketiga. Di warnet, saya cek email dari klien, apakah dia kasih kerjaan. Saat dia berikan topik, saya 'browsing' topik tersebut, 'save page' di flashdisk, dan saya bawa pulang untuk saya kerjakan di komputer di rumah. Komputer jadul, saudara-saudara, bukan laptop. Ke warnet bisa tiga atau empat kali sehari, sampai-sampai saya pernah lupa membawa pulang sepeda saya, dimana saya membawanya ke warnet, memarkirnya, dan pulang jalan kaki. Berhubung penjaga warnet sudah hafal, dia menyimpankan sepeda saya di tempat yang aman :D. Semoga Tuhan membalaskan kebaikannya.

Ok, cukup ngelanturnya. Soal tak menyerah tadi, saya tak mau sampai melanggar deadline karena pantang bagi klien dari luar negeri untuk menerima artikel setelah batas waktu yang ditentukan. Sampai-sampai, saya menyelesaikan satu paket pesanan artikel, padahal saya sudah memasuki hari H untuk melahirkan, dan bukaan 3! Untunglah, bidan yang saya percaya hanya selisih tujuh rumah saja, dan saya langsung melahirkan dalam waktu satu jam.

Sekarang? Saya tidak hidup mewah, tapi semuanya 'PAS'. Benar-benar 'working from home', bukan 'working from internet cafe'. Kesimpulannya nih, kalau mau kerja dari rumah:

- Tak menyerah
- Jangan telat deadline (apapun kerjaannya, entah itu menulis artikel, desain, entri data)
- Tidak meremehkan pekerjaan, terutama di awal-awal merintis.
- Tak ada kaya cepat dari internet. Kaya cepat hanya dari warisan dan belum tentu pula hartanya bisa awet sampai empat turunan

Post a Comment

Previous Post Next Post

Popular Items